Inspirasi ini saya dapat sewaktu saya di SMA dan kuliah ini. Ketika saya SMA, saya memulai pelajaran dari jam 07.00 sampai jam 15.00. Dalam sehari itu ada dua istirahat, yaitu pada jam 10.00 dan  jam 12.00. Dari jam 07.00 sampai jam 10.00 kami mendapatkan dua pelajaran. Jadi, dalam 8 jam itu bisa sampai 6-8 pelajaran karena ada yang hanya 1 jam belajarnya.

Biasanya kami sudah merasa lelah pada jam ke-2, saya sering sekali berkata bahwa saya lapar dan ingin ke kantin. Teman-teman saya juga sering begitu sehingga saya semakin mengeluh padahal tidak ada makanan yang bisa dimakan saat itu.

Kelas saya berada di lantai 3, saya dan teman-teman sering mengeluh kalau capek naik-turun tangga-tangganya. Saya suka berkata, “Capek ih”. Rasanya setelah kita bilang begitu terasa lebih capek untuk naik-turun tangga-tangga lagi.

Ketika olahraga, guru yang mengajar suka menyuruh kami untuk lari dulu sebelum mulai olahraganya. Kami suka sekali mengeluh kalau kaki pegal, perut terasa sakit karena kebanyakan lari. Dan saat tes olahraga lari, kami biasanya tes lari di sempur ataupun lari keliling sekolah. Kaki dan perut kami rasanya sakit kalau sudah selesai lari, karena kami sering mengeluh kaki kami terasa makin pegal dan sakit. Akhirnya guru kami yang memberi tahu kami untuk meluruskan kaki karena kami belum terbiasa lari lama.

Dan saya paling sering mengeluh ketika saya belajar, pasti saya bilang malas dan belajarnya jadi tidak serius. Karena saya berkata begitu saya semakin malas untuk melanjutkan belajar.

Itu semua adalah pelajaran bagi saya untuk bertindak bijak terhadap diri saya sendiri maupun orang lain. Karena jika kita terus mengeluh itu akan terasa lebih berat seperti kita mengatakan lapar padahal tidak ada makanan saat itu pasti kita akan merasa semakin lapar, ketika kita merasa capek ataupun pegal dan kita mengeluhkan itu, kita akan semakin capek dan pakerjaan yang kita lakukan akan semakin berat. Dan apalagi ketika belajar kita mengeluhkan kalau kita malas itu akan terasa sampai seterusnya.

Maka dari itu, saya belajar untuk selalu bersikap bijak sampai saat ini. Karena “kebijaksanaan adlah keajaiban yang dapat mengubah penderitaan menjadi kesenangan”. Kebijaksanaan adalah salah satu dari wujud profesionalitas yang dilambangkan dengan ranting pada SPOT.

Pertama kali saya masuk IPB, saya tidak tahu kalau ada Tingkat Persiapan Bersama. Saya coba untuk menyesuaikan terlebih dahulu karena saya mengira kalau kuliah langsung masuk ke Fakultas masing-masing. Dan sebelum TPB ada juga matrikulasi yang terdiri dari pelajaran kimia dan pengantar matematika tergantung kita mendapat matrikulasi apa.

Ketika matrikulasi sudah selesai, barulah kami masuk dalam TPB ini. Di TPB ada berbagai pelajaran waktu kita SMA, tetapi ada juga yang baru kita pelajari, yaitu Pengantar Ilmu Pertanian. Nah, saya mendapat inspirasi ini dari dosen PIP yang mengajar kami pertama kali, yaitu Ibu Dewi.

Saya belajar PIP pada hari Jum’at. Dosen yang masuk waktu itu adalah Ibu Dewi seharusnya dosen kami yang mengajar bahan UTS ini adalah Ibu Ami karena Ibu Ami berhalangan untuk hadir jadi digantikan oleh dosen yang seharusnya mengajar bahan UAS di semester 2.

Hari pertama Ibu Dewi masih memperkenalkan kami tentang PIP. Ibu Dewi memberi tahu kami tentang arti dari pertanian dan segala yang berhubungan dengan PIP. Selain itu juga Bu Dewi memberi kami inspirasi -khususnya saya- tentang angsa yang bermigrasi dalam formasi V. Mereka terbang membentuk huruf V karena setiap angsa menciptakan udara yang naik ke atas untuk angsa di belakangnya dengan mengepakkan sayap mereka. Formasi itu membantu mereka terbang menempuh jarak 70% lebih jauh daripada terbang sendirian. Jika ada yang keluar dari formasi, itu karena angsa itu merasakan tekanan udaranya lebih besar. Artinya ia butuh bantuan sesamanya yang sedang terbang di depannya. Yang paling depan adalah pemimpin mereka. Jika pemimpin mereka lelah, angsa yang berada di belakangnya akan mengambil alih pimpinan. Dan jika kita mendengar mereka berteriak koak-koak, itu adalah untuk saling menyemangati dan pemimpin bisa menjaga kecepatan. Dan ketika seekor angsa sakit atau terluka tembak dan jatuh dari kawanannya, dua angsa lainnya akan mendampingi angsa yang sakit itu, melindungi dan menolongnya mendarat di tanah sampai angsa yang sakit itu dapat terbang lagi atau sampai dia mati, dua angsa itu akan tetap bersamanya. Lalu barulah dua angsa itu terbang lagi untuk bergabung dengan angsa-angsa lainnya dan mengambil posisi mereka kembali dalam formasi tersebut. Cerita angsa ini menginspirasi saya untuk saling berempati terhadap sesama. Bagian dari pohon dalam SPOT adalah bunga.